Seminar Ippho untuk Indonesia

Penulis ingin mencoba menuangkan kembali ilmu yang didapatkan oleh salah seorang pendamping dalam sebuah seminar yang disampaikan oleh pembicara nasional Ippho Santosa. Memang tidak ada kaitannya langsung dengan pendampingan di SMK. Tetapi konten-konten yang ada berkaitan erat dengan proses kehidupan yang dijalani oleh pendamping itu sendiri.

  • Hal-hal yang berkaitan dengan kekayaan dan kebahagiaan
  1. Semua yang diluar dan tampak, itu berasal dari dalam dan tidak terlihat, dimana yang dari dalam itu jauh lebih kuat
  2. Anda tidak harus memahami semua, untuk memulai sesuatu
  3. Anda tidak harus didukung everyone untuk menjadi someone
  4. Jika anda ingin menguasai everything, jadinya nothing
  5. Jika anda ingin menyenangkan everyone, anda melatih diri menjadi no-one
  6. Cara anda melakukan something, mencerminkan anda dalam melakukan everything
  7. Jika anda gagal mengelola waktu, anda akan gagal mengelola apapun
  8. Jika anda tidak bisa bahagia hari ini, anda tidak akan bisa bahagia kapanpun
  9. Jika anda terbiasa bangun lebih awal, anda akan mampu terbiasa dengan kebiasaan2 lainnya
  10. Jika nasib terburuk menimpa anda, itu akan memunculkan potensi terbaik anda
  11. Jika seseorang tidak menertawakan impian anda, berarti impian itu terlalu kecil untuk anda
  • Imam Syafi’i pernah berkata, merantaulah dari kampung halamanmu untuk:
  1. Menghilangkan kejenuhan
  2. Mencari bekal hidup
  3. Mencari ilmu
  4. Mendapatkan teman
  5. Belajar tata krama
  • Air bening itu layak diminum, jika air itu bergerak.
  • Manusia akan naik derajatnya ketika merantau, ibarat emas yang terangkat dari bijihnya..
  • Hijrah ( merantau) bisa memberikan manfaat, diantaranya sebagai berikut:
  1. Mengembangkan potensi otak kanan
  2. Menambah wawasan
  3. Memunculkan gagasan
  4. Menambah pertemanan
  5. Menambah semangat
  6. Meningkatkan taraf hidup
  7. Menambah persaingan(tantangan)

(MSA)

1 Hari 1 Tulisan…

Tags

, , ,

Oleh. Edi Purnama Stoik

(Tulisan ini diambil dari blognya penulis di : http://stoik.wordpress.com/2013/12/04/1-hari-1-tulisan/)

Menulislah setiap hari.

Tuangkanlah gagasan dan ide-idemu dalam bentuk tulisan, lalu publikasikan..semoga akan banyak orang yang mendapatkan inspirasi dan pencerahan dari tulisanmu.. kalo itu baik, apa tidak menjadi suatu kebaikan?

Setelah cukup lama vakum tidak menulis di blog, saya menemukan gairah kembali untuk menulis gara-gara membaca bukunya pak Jamil Azzaini…mantap sekali sobat, saya pun menjadi terinspirasi olehnya.

Edi Purnama Stoik, 1 hari 1 tulisan,

Bagi saya, menulis bisa menjadi obat untuk mengobati kejenuhan. Menulis juga membuat saya bisa menjadi apa pun yang saya inginkan…Bagaimana dengan anda? mungkin anda punya sensasi tersendiri..its Ok.

Bahkan katanya, dengan menulis kita bisa mendapatkan beberapa manfaat..diantaranya adalah:

1. Mencegah kepikunan

Tentu anda tidak ingin kan disebut sebagai

orang pikun sebelum waktunya?, maka rajinlah menulis..

2. Membuat Jejak

Anda pasti tidak ingin kan cepat dilupakan oleh sejarah?, maka buatlah “jejak”. Mungkin dikemudian hari ketika keturunan anda mencari profil anda, mereka bisa menemukannya dengan mudah, baik itu di internet atau di buku-buku. Orang-orang dulu juga kan biasa membuat prasasti. Karena itu buatlah jejak sejarah yang baik tentang anda.

3. Media Ide dan Dakwah

Ini penting sobat… apalagi jika anda termasuk dalam kelompok orang-orang langka, alias yang punya otak bagus. Anda bisa menyampaikan ide dan gagasan anda tentang kehidupan, lingkungan, sosial, politik, kemasyarakatan, de el el.. Luar biasa kan!. Apalagi jika anda sebagai juru dakwah, maka nasehat dan ceramah-ceramah anda bisa ditulis dan memungkinkan untuk dibaca oleh banyak orang, bahkan lintas generasi. Insya Allah ini merupakan salah satu wasilah kebaikan.

Disamping tiga manfaat di atas, tentu masih banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari aktivitas menulis. Padahal awalnya menulis sebagai iseng-iseng, eh…taunya jadi keenakan dan ga bisa berhenti menulis. :D

Dagelan Upacara Bendera

??????????Setelah sekian lama, hari ini aku kembali mengikuti upacara bendera di halaman sekolah SMKN 2 Sumbawa.  Kegiatan yang di beberapa tempat berjalan begitu khidmat, tidak kulihat di gunakan sistem “moving class”. Kelas yang mereka tempati bergantung pada mata pelajaran pada hari dan jam tersebut. Sehingga mereka harus membawa tas ransel mereka setiap akan berpindah kelas.

Saat upacara pagi ini, halaman upacara terlihat penuh dengan tumpukan tas siswa. Bukan hanya halaman, tapi pepohonan yang ada di sekitar lapangan upacara juga menjadi tempat siswa menggantung tas. Sungguh, sangat tidak elok melihatnya. Halaman sekolah yang seharusnya digunakan untuk pelaksanaan upacara, tapi dipenuhi tas siswa yang tidak teratur.

Sungguh aneh, walaupun sistem kelas berpindah, tapi siswa sudah memiliki jadwal pelajaran tiap harinya. Jadi, setiap hari senin pagi seharusnya mereka sudah mengetahui di kelas mana mereka akan belajar. Kenapa harus membawa tas ke lapangan upacara? Bukan kesalahan siswa sepenuhnya. Bagaimana tidak, ruang kelas mereka pada jam pelaksanaan upacara belum juga dibuka. Hal ini juga terlihat di kelas TAB yang sudah memiliki ruang kelas tetap. Sehingga siswa TAB pun ikut membawa tas ransel mereka ke lapangan upacara.

??????????

Kedua, Kedisiplinan siswa dan guru tidak terlihat ketika upacara bendera berlangsung. Pelaksanaan upacara berlangsung penuh keramaian. Siswa dan Guru ikut bercoleteh dalam pelaksanaan upacara. Keramaian sangat jelas terlihat ketika ada petugas upacara yang melakukan kesalahan kecil dalam bertugas. Semua peserta upacara ikut tertawa lepas dan bertepuk tangan dengan kerasnya. Saya jadi mikir, ini upacara bendera ataukah dagelan yang setiap orang bebas bersuara, tertawa, tepuk tangan, dan melakukan keributan lainnya.

Ketiga, ada banyak guru yang lebih memilih tidak masuk dalam barisan guru dan memilih berteduh saat pelaksanaan upacara. Hal ini juga menjadi sorotanku, karena menimbulkan kecemburuan sosial dengan siswa. Siswa berada di tengah lapangan upacara dengan penyinaran matahari pagi yang menyegarkan, tapi nampaknya guru di sini belum ingin merasakan sehatnya sinar matahari pagi. Mereka lebih memilih berteduh untuk menjaga “kulitnya”.

Ya, beginilah suasana upacara bendera pertamaku di sekolah. Entah bagian mana dari sistem sekolah ini yang perlu diperbaiki, tapi aku merasa masih banyak yang harus di ubah dari sistem kedisiplinan yang ada di sekolah ini. Perlahan kita ubah semuanya. Bismillah. (IR)

Arti Dedikasi

dedikasi

Dedikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terklasifikasikan dalam kelas kata benda dan kelas kata kerja. Sebagai kelas kata benda, dedikasi memiliki definisi pengorbanan tenaga,pikiran, dan waktu untuk berhasilnya suatu usaha atau tujuan mulia; pengabdian. Contoh : untuk melaksanakan cita-cita yang luhur diperlukan keyakinan dan dedikasi.

Sebagai golongan kata kerja, dedikasi memiliki definisi mengabdikan diri (untuk, kepada). Contoh : dokter itu berdedikasi kepada ilmunya (profesinya). (MS)

Aku Kertas tak Berdaya

2013-11-01 11.22.44Kertas ini terpampang di ruangan Management Representative sekolah. Melihatnya cukup mengesankan sekaligus membanggakan. Setiap kata dalam tulisan tersebut merepresentasikan bagaimana seorang “Good Teacher” dengan begitu kuat. Namun, membacanya akan memberikan efek yang berbeda-beda bagi masing-masing orang. Belum tentu semuanya mampu menangkap maksud di pembuat tulisan ini. Mungkin, akan ada yang termotivasi dan akan ada yang tak peduli.

Lantas, mimpikah jika semua kata dalam tulisan itu jadi nyata?

Khayalan tingkat tinggikah itu semua?

Jawaban seorang Ebiet G. Ade dalam lirik “Berita kepada kawan” adalah “coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.

Tapi, adakah guru yang sudah melakukan itu semua???

Jawabannya ADA!!! Tapi lebih banyak yang baru melakukan point MENGAJAR dan MENILAI. Proses menuju “GOOD TEACHER” memang sangat sulit dan membutuhkan proses. Proses yang dilaluinya pun bukan proses yang biasa-biasa. Orang yang mampu menjadikan hal itu nyata pun orang yang luar biasa. Jadi, untuk menjadi “GOOD TEACHER” membutuhkan tekad yang kokoh, proses yang hebat, dan kekonsistenan dalam menjaganya.

Tulisan ini hanyalah tertuang dalam secarik kertas. Seandainya ia berbicara, mungkin ia akan berbicara seperti ini:

“Aku hanyalah secarik kertas

Lalu ada orang yang menuliskan untaian kata-kata yang saat ini bisa dibaca setiap orang, termasuk guru

Awalnya aku tak mengerti apa arti kata itu, tapi perlahan akhirnya aku paham

Aku harus menjadi pengingat bagi guru-guru di sekolah agar menjadi “GOOD TEACHER”

Ya, aku paham

Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam,aku dibaca oleh setiap guru yang melihatku

Hari ke hari, minggu ke minggu aku mulai senang karena ada yang berubah karenaku. Dia bapak yang kurus itu, mengajarkan tiap-tiap materi dengan semangat. Dia juga mengarahkan siswa ke hal-hal positif, ia mendidik dan melatih siswa-siswanya. Ia menjadi teladan dalam berpikir dan berperilaku. Siswa pun senang punya guru sepertinya. Siswanya pun berubah menjadi siswa yang disiplin, rajin, dan berkemauan tinggi

Tapi kok sedikit sekali yang seperti ini??!!

Hingga setahun, dua tahun, dan bertahun-tahun sampai sekarang aku masih belum merasakan ada perubahan

Aku kertas tak berdaya

Aku bingung kawan

Aku tak punya kekuatan

Aku mati

Tak punya akal

Berwarna tapi hanya untuk dirinya

Kata-kataku “menggugah” (bagi sebagian orang) namun tak berdaya

Aku tidak bisa menjelma menjadi polisi pendidikan yang mendisiplinkan guru yang memble’

Aku butuh penegak

Aku butuh pengawas

Aku kertas tak berdaya

Aku sangat merindukan mampu menembus relung jiwa para guru

Aku bangga jika setiap huruf yang kupunya ada dan terbentuk dalam diri seorang guru

Aku merindukan guru-guru baik. Sangat rindu!!!

Aku bangga menjadi warna bagi dunia pendidikan

Aku kagum terhadap guru yang senafas denganku

Aku saat ini dan di masa depan akan selalu OPTIMIS memberikan SEMANGAT bagi pendidikan INDONESIA. Karena Aku Bangga jadi bagian kemajuan pendidikan Indonesia!!!”

(MSA)

Disiplin Waktu tanpa Teladan

??????????Tepat pukul 06.30 WITA aku tiba di sekolah. Aktivitas belajar mengajar di sekolah dimulai pukul 07.15. Saat aku tiba di sekolah, sudah ada beberapa siswa yang juga hadir lebih awal. Sedangkan guru dan karyawan belum satupun terlihat. Aku sempat tersenyum dalam hati melihat kedisiplinan siswa masuk sekolah. Artinya, tidak susah untuk lebih meningkatkan kedisiplinan siswa mengenai waktu.

Oleh karena kegiatan belajar masih cukup lama di mulai, kusempatkan waktuku untuk berkeliling sekolah melihat kondisi sekitar. Halaman sekolah sangat luas untuk tempat bermain siswa. Fasilitaspun bisa dibilang lengkap, mulai lapangan olahraga, perpustakaan, kantin, mushola dan lain-lain. Tapi, berbicara mengenai efektivitas penggunaan, belum selayaknya aku berbangga hati.

Di depan ruang perpustakaan tertera jam buka perpustakaan dari 08.00 – 12.00 untuk hari sabtu. Nyatanya, dari pagi hingga siang pintu perpustakaan selalu tertutup. Entah karena minat siswa yang kurang dalam membaca atau petugas perpustakaan yang sering absen. Inilah fenomena aktivitas rohani. Banyak hal yang kurang ketika kita berbicara mengenai efektivitas penggunaan sarana dan prasarana sekolah.

Baiklah, kita bahas lebih jauh mengenai sarana dan prasarana di kesempatan lain. Ada hal menonjol yang masih tidak layak ditunjukkan oleh sang pemberi teladan. Aku tidak bermaksud untuk menjatuhkan harga diri guru, tapi ini akan menjadi perbaikan ke depannya. Sejak pukul 06.30 aku berada di sekolah, baru pukul 07.20 ada 1 guru yang datang. Padahal seharusnya jam belajar sudah dimulai pukul 07.15.

Tidak cukup sampai di situ, ternyata guru yang datang pun tidak membawa kunci kelas dan workshop. Semua kunci dibawah oleh bagian admin yang ternyata hari ini awalnya berencana tidak masuk karena akan mengikuti Tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Setelah ditunggu hingga pukul 07.30, sang guru pun menelpon admin tersebut untuk segera datang ke sekolah. Lokasi rumah dan sekolahpun cukup jauh, sehingga diperlukan waktu sekitar 30 menit lagi untuk tiba di sekolah.

Cukup banyak waktu yang terbuang di pagi ini hanya untuk menunggu guru dan sang juru kunci. Miris melihat semangat belajar siswa yang tinggi dengan datang pagi hari ke sekolah, tapi tidak di dukung oleh guru dan karyawan lainnya. Jika hal ini berlangsung lama dan tidak ada perbaikan dari pihak sekolah, maka bukan tidak mungkin siswa pun akan mengabaikan kedisiplinan waktu ini.

Di hari pertama aku bertugas, sempat aku menanyakan ke kepala jurusan,”jam berapa mulai masuk sekolah pak?” Guru tersebut kemudian menjawab,” biasanya masuk pukul 07.15, tapi ada toleransi 15 menit untuk keterlambatan.” Dan sekarang aku pun memahami bahwa toleransi waktu 15 menit itu adalah keinginan guru untuk mengakomodir mereka yang sering telat. Karena nyatanya siswa bisa datang jauh lebih awal sebelum jam belajar dimulai.

Seperti inilah sekilas mengenai kedisiplinan waktu yang terlihat di sekolah pendampinganku. Aku berharap kejadian hari ini tidak mencerminkan keseharian sekolah. Jika ini yang terjadi, maka menjadi tugas besar ke depannya untuk meningkatkan kesadaran guru mengenai disiplin waktu. Semoga kita semua bisa menemukan ide kreatif lainnya untuk membangun masyarakat Indonesia melalui pendidikan. (IR)

Teladan Merokok di Sekolah

Hari ini merupakan hari pertama aku diperkenalkan oleh PT. Trakindo Utama ke SMKN 2 Sumbawa Besar. Lokasi dimana aku akan menghabiskan 3 tahun lamanya untuk membantu memperbaiki kualitas sekolah. Terutama kompetensi dan karakter guru dan siswa. Surat tugas dari Trakindo pun diberikan ke Kepala Sekolah secara langsung. Artinya, mulai hari ini juga aku sudah resmi bekerja di sekolah itu sebagai pendamping sekolah mewakili Trakindo.

IMG_20131031_113348Di hari pertama pengamatanku di sekolah, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Melalui tulisan ini, inginku berbagi mengenai budaya para pendidik yang tidak sewajarnya ada di dunia pendidikan, yaitu budaya merokok. Di sini, aku bukan mengkritik perilaku merokok yang dilakukan oleh para guru. Kupikir, guru sudah memahami bahaya merokok dan sudah siap dengan segala dampak negatif dari merokok. Akan tetapi, ketika merokok itu dilakukan dilingkungan sekolah, terlebih di ruang guru dan ruang kelas dimana aktivitas belajar berlangsung, inilah teladan tidak baik dari sang pemberi teladan.

Sekilas Pak Hendra selaku HRD Trakindo sempat menanyakan ke salah satu guru, “Gak ada lokasi merokok ya?”. Guru tersebut lantas berkata,” Biasanya kami bersenda gurau di ruangan ini dan ngobrol tanpa merokok itu kurang nyaman.” Kemudian guru tersebut balik menanyaiku apakah aku merokok. Aku cuma berkata,”maaf pak, aku tidak merokok.” Kata sindiran pun keluar dari guru tersebut, “wah gak asyik.”

Begitulah sekilas petikan percakapan kami. Aku tau, mungkin itu merupakan hak mereka untuk merokok, tapi ketika dilakukan oleh seorang pemberi teladan di lingkungan pendidikan, maka hal itu tidak lagi hanya berdampak pada dirinya sendiri. Tapi akan berdampak besar bagi generasi akan datang.

Guru adalah sang pemberi teladan di sekolah. Apa yang dilakukan oleh seorang guru juga sebagian besar akan diikuti oleh anak didiknya. Jika teladan yang diberikan buruk, maka buruk juga perilaku sang anak didik. Tulisan “Area Dilarang Merokok” di lingkungan sekolah pun seakan tidak bermakna jika sang guru pun melanggarnya. Budaya melanggar aturan yang sudah dibuat pun bisa dicontoh oleh siswanya.

Jika sang guru memang harus merokok di sekolah, kenapa tidak disediakan ruang atau area khusus untuk merokok? Sehingga aktivitas merokoknya tidak mengganggu siswa yang belajar. Untuk anda ketahui, tepat di sebelah ruang guru (lokasi merokok) terdapat area workshop (tempat praktik) dan perpusatakaan kecil. Secara tidak langsung peraturan di sekolah itu mengatakan, “Siswa DILARANG merokok, tapi HARUS menghisap asap rokok dari guru.”

Masih banyak permasalahan lain di lingkungan pendidikan kita. Ini merupakan fenomena kecil yang aku soroti di hari pertamaku berkecimpung di Sekolah. Semoga perlahan kita bisa memperbaiki budaya yang ada di lingkungan pendidikan. Bravo Pendidikan Indonesia. (IR)